Di depan kuburan merah basah itu, dikelilingi sekelompok orang yang mengantar kepergiannya menuju ke sang Maha Kuasa untuk selama-lamanya.. Gue bingung.
Gue bingung.. dan mencoba mengingat semua kenangan tentang dia.
Tentang seorang guru. Idealismenya, dan prinsip sosialnya.
terutama, kebaikannya.
**
Gue dulu orangnya cengegesan, sok keren dan sok tau. tipikal mid-boss yang lu temuin di konsol jadul semacem sega atau dreamcast, yang omong besar gak ada isinya sama sekali. Cukup satu kali magic, raiblah kegagahannya. Kegagahan gue waktu itu, seperti bulu ketek yang melambai.
Dan karena itu, gue paling ga suka didikte dan diperintah, sampe sekarang. Apapun kegiatan yang didelegasikan ke gue secara sepihak, gue ga pernah mau ngerjain. Harus satu persetujuan dengan prinsip gue. Egois banget. Well, karena gue biasanya jadi mesin ide, akhirnya gue bisa milih kerjaan yang bisa kerjain dengan enjoy dan tanpa beban, sementara temen gua tanpa disadari dapet kerjaan yang troublesome.
Err.. im a devil, all right.
Kalo sekarang sih, asal itu oke buat semua anggota, gua siap nerima tugas apa pun. Asal jangan jadi moderator, please. Gue ga mau presentasi yang resmi malah jadi total lawak karena perangai gue yang ga bisa serius. Entar gue ngajarin mereka jadi orang gila professional. Bisa bisa gue di-interview Oprah dan terkenal sebagai pencetus SMKN Gila Pro 1.
---
Sikap cengengesan ga jelas itu akhirnya ilang saat gue kelas 2, dimana di satu mata pelajaran MCP (Mobile Communication Programming) gue nemuin satu guru.
Namanya Pak Purwanto.
Saat itu, gue cuma bisa ngerangkum satu kata buat guru itu. KERAS. Dia menegakkan disiplin dengan cukup strict, dedikasi kerja dia hebat, dan satu hal yang bikin gua kagum. Dengan semua poin poin itu, kita bisa dengan nyaman diajar sama dia. Gue.... pada dasarnya ngeberontak, tapi gue dibawa tunduk sama prinsip-prinsipnya. Pak Purwanto adalah guru inspirasi gue.
Di akhir semester, Pak Purwanto ngasih tugas akhir dimana kita harus sidang presentasi. Dia nerima sesi pembuatan judul TA waktu itu. Satu persatu dia panggil dan dia tanya.
'apa judul kamu?' 'Kok gini konsepnya? coba jelasin'
'apa judul kamu?' 'Kok gini konsepnya? coba jelasin'
Satu persatu siswa ngasih ide mereka dengan penjelasan tentang konsepnya. lu tau apa? satu persatu dari mereka tumbang dan melayang, kalah oleh kecerdikan Pak Purwanto dalam ngeliat celah kesalahan judul itu.
Gue udah punya konsep di kepala, ide udah oke, dan siap gua lancarkan begitu ditanya. Ide judulnya klasik, garing dan asin (ini tugas apa gorengan?)
Judul TA Gue : 'Tata Cara Menggambar Manga Bagi Pemula'. Oke..ga inovatif sekali, sodara sodara
Judul TA Gue : 'Tata Cara Menggambar Manga Bagi Pemula'. Oke..ga inovatif sekali, sodara sodara
Tapi entah kenapa, judul itu diterima, dengan satu kata dari beliau yang cukup bikin motivasi gue naik tinggi.
'Isinya yang lengkap, ya? kalo enggak programmnya bapak kasih 0'
Waow. pikir gue. ini ekstrem, tapi gue bisa ngelakuin ini. gue harus bisa bikin beliau kagum. Untuk segala yang dia kasih ke gue satu semester ini.
Dibekali semangat itu, gue dan temen-temen gue dengan berdarah-darah dan penuh perjuangan menyelesaikan TA itu. Seminggu sebelum sidang adalah Minggu Sakit Sekelas. Kita semua keserang virus flu yang kejam dan tidak berkeprifluan membasmi antibodi yang sangat sangat diperluin untuk sidang itu. Untungnya, Kita semua selamat. (Walau beres di saat saat paling akhir; 2 jam sebelum sidang). Temen gue, Opik, bilang gini.
"Ini teh, Tugas sekolah atau tugas kuliah sih? Serasa perang gini".
Gue cuma bisa ngangguk setuju, kepala udah ga bisa diajak kompromi. Kebanyakan bikin kode-kode bikin gua teleng. Temen yang lain sama halnya sih. Bahkan ada satu temen gua, namanya Egi, yang ngerjain TA dia sembari ngebantuin temen-temen yang lain, secara ilmu dia lebih dari kita dan dia orangnya baik. Tugas beres..... saatnya sidang.
To make this story short, kebanyakan presentator dikritik. Kesalahan selalu terlihat jelas di mata guru hebat itu. Bahkan egi pun, dengan programnnya yang super cerdik, salahnya masih terlihat.
Gue saat itu, keringet dingin ga abis abis. mampus. program gue kacrut abis, cuma inovasi dikit.. sisanya ngikutin modul semua. Dimana inovasi harus diutamakan disini.
Gue pengen ada gua dan gue bisa nyumput di gua itu sama diri gue yang gue banget. (bingung kan? gue juga bingung)
Saatnya gue maju. Tangan bergetar ga selesai-selesai, panas laptop udah ga kerasa. Ada bau kebakar dari samping kiri gua... ternyata charger laptop temen gua bakti kebakar. oh. MATIIN OI !
Gue masang kabel proyektor, dan gue tampilin program gue. Berbekal pengalaman gue belajar gambar dan isi coding program, gue bacot abis. Pak Purwanto ngeliat gue dengan tajem. Seragam gue nempel di punggung saking banyaknya keringat. Di tengah-tengah penjelasan itu.. beliau berkata.
"Oke rif, tutup aja presentasinya."
Gue bengong total. Ada apa ini? kok di udahin gini? gak di kritik? apa programnya gak menarik sampe presentasi gue ditutup gitu aja ? Tanda tanya bagai ngalir dari otak gue ke mimbar. Spekulasi gue semuanya ga enak.
Dan anak anak, entah kenapa... tiba tiba tepuk tangan. Kenapa mereka tepuk tangan? pertanyaan masih ada di kepala gue. Tapi, setelah gue ngeliat ekspresi beliau, perasaan gue langsung tenang dan bahagia.
Beliau tersenyum.
Satu hal itu, membuat hari-hari perjuangan gue gak sia sia.
Satu hal itu, satu senyuman itu, satu kebanggaan merasa telah dihargai itu...
Membuat gua bangga. Betapa ada guru sebaik dan semurni beliau.
**
Pada hari ini jam 00.00. Ia berpulang, meninggalkan jasa-jasanya sebagai pengajar & pejuang di sekolah gue. Dia adalah kontributor terkuat, dimana ia yang paling berjasa mengembangkan sekolah gue jadi SMK terbaik di kota Bandung.
Atau, satu kata sederhana. Beliau adalah orang baik. Orang yang layak pada saat dikebumikan diantar keluarganya, sanak saudaranya, sahabat terbaiknya, kolega-koleganya, teman, murid yang sangat mencintai sosok beliau.. Orang yang layak, didoakan lebih dari 100 orang saat ia berpulang.
Gue yakin.. Beliau bisa dengan khidmat bertemu dengan-Nya dan berbincang layaknya sahabat. Sebagaimana ia berbincang pada murid yang menghormatinya sepenuh hati.
Berpulanglah dengan senyum, Pak Purwanto. Kami akan selalu mengenang jasa-jasa serta luasnya ilmu yang engkau berikan. Kami berterima kasih atas kebaikan anda. Kedisiplinan anda dalam mengingatkan kami apa yang salah dan apa yang benar.
Pak Purwanto, Terima Kasih. Dan selamat tinggal
0 komentar
Posting Komentar