#11 : Lirik-lirik Tujuan

Ada sebuah kisah tentang kehidupan, dimana yang satu ingin terus melesat maju ke depan, sementara ada pula yang hanya ingin menepi di sisi jalan dan menyemangati orang tersebut. Partanyaannya adalah, siapakah yang paling bahagia diantara keduanya?

Sinar matahari menembus rintik-rintik hujan di siang hari ini, senyum manis terpancar dalam seka langit berlapis awan nan bersih setelah mengeluarkan isinya. Aku menyeka mata dan melihat ke sudut kursi angkutan kota dimana aku telah melelapkan diriku sejenak tadi, nampaknya masih tanpa penghuni. Supir angkot pun mulai terlihat tidak sabaran, jemarinya tanpa henti menghentak-hentak setir mobil, seakan hendak membuat melodi. Mentari merajam punggungku. Merasa panas, aku pindah ke sudut yang lain.

Sembari menunggu, kukeluarkan handphone tersayangku dan kupasangkan headset untuk mengisi kekosongan waktu. Melihat jam internal handphone, rupanya waktu menunjukkan jam 15.00,  aku bahkan tidak menyadarinya. Sedikit tersenyum simpul, aku menyetel lagu dalam playlist. Dan entah mengapa suasana sore ini mengingatkanku pada sebuah epos, temanya adalah tentang pemuda yang saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, dengan imbalan darah dan persahabatan.  Pada akhir cerita itu, sang pemenang berakhir sendiri, di pedang yang ia genggam terbaring sang rival. Sang pemenang berdiri di atas tumpukan mayat pengikutnya dan pengikut rivalnya, semuanya terbujur kaku, tidak bergerak. Angin berhembus menerpa perbukitan luas itu. Dan kau tahu ekspresi apa yang muncul di wajah sang pemenang? Ia menangis tanpa suara. Penyesalan selalu datang di akhir, menurut peribahasa.

Tangisnya pun tenggelam dalam matahari merah yang tenggelam sunyi. Persis seperti matahari yang menghiasi sore ini.

Getaran-getaran kecil dari pintu samping menyadarkanku bahwa ada siswa-siswi dari sekolahku menaiki angkutan ini, aku segera menyisi untuk mereka. Ada 2 orang lelaki dan 1 orang perempuan, perkiraanku mereka berada di kelas 2 dan pulang lebih awal. Tawa dan canda mengalir dari percakapan mereka tanpa henti, walau kudengar samar-samar karena telingaku disibukkan dengan dentingan piano dari headset yang kupakai. Baguslah, pikirku. Setidaknya cahaya mentari itu tidak menyergapku lagi. Dan angkutan kota ini pun bisa segera maju menggapai tujuan akhirnya.

Kadang kala, aku berpikir. Semua orang memiliki kualitasnya masing-masing, mereka mempunyai pengalaman dalam hidupnya, entah itu baik atau buruk. Aku yakin, bahwa seorang petani yang setiap hari bergelut dengan tanamannya memiliki pengalaman hidup yang tidak kurang dengan seorang pengusaha dalam bidang real estate dan sahamnya, hanya diletakkan di kotak yang berbeda dan situasi yang berbeda.
Tetapi, arti hidup mereka tetap sama. Arti hidupku dan teman sekelasku pula tidak berbeda, tentunya. Aku sadar, bahwa terdapat tingkatan dan strata sendiri dalam kelasku, juga dalam organisasi-organisasi yang kuikuti. Kesenjangan sosial tampak  pada para anggotanya. Akan selalu ada seorang individu, tentunya dengan ambisi dan tekad, ingin menjadi nomor satu. Ada pula individu lain hanya ingin membantu mereka, manusia berambisi tinggi itu, untuk bersinar dan memeluknya apabila mereka berhasil menggapai tujuan. 

Dan aku bingung, manakah situasi yang bisa membuatku lebih nyaman ?

Nomor satu bukan berarti jaminan untuk membeli satu tiket kebahagiaan selama-lamanya, tidak. Pengalamanku mengatakan bahwa kebahagiaan bertahan sementara pada puncaknya, dan secara bertahap menurun dalam skala tinggi atau rendah, hingga pada akhirnya menyentuh dasar kesedihan dan berusaha memanjat kembali untuk meraih kebahagiaan itu. Perputaran kejadian ini takkan berakhir. 

Apakah arti hidup bagi pemenang, dan apakah pula arti hidup bagi sang “rata-rata” ini?

Akhirnya, angkutan ini pun maju, dengan mobilnya yang telah penuh dengan kuota “tujuh-lima”-nya memenuhi persyaratan untuk menggelinding pergi. Aku sedikit heran pada penumpang, mengapa saat kondisi angkutan kosong, mereka berkicau ria dengan sesama? Dan apabila telah penuh, mereka diam terbisu dan disibukkan oleh gadget-gadget terbaru mereka? Padahal, aku berharap apabila ada lebih banyak orang dalam suatu tempat, akan ada banyak kesempatan untuk membuat percakapan hangat ketimbang saling individualistis seperti ini. Sambil memikirkan gagasan yang bahkan aku sendiri tidak yakin, aku hanya tersenyum dan mengencangkan volume lagu, mengalahkan kebisingan mobil-mobil yang ingin saling salip karena macet menghadang arus laju mereka.

Satu kejadian kecil menyergapku saat aku mengikuti pelajaran di kelas.
Ada sebuah tes, tes menghapal, sebutlah begitu. Guru yang mengajar memang cukup tegas dan tanpa kompromi, ia selalu membuat kami merasa gugup saat tes itu, walau aku tahu bahwa hatinya lembut dan pengertian, hanya cara pengajarannya memang keras. Para temanku, termasuk aku, memburu-buru untuk menyelesaikan tes ini, selain karena ingin nilai kesigapan tinggi, juga ingin melepaskan perasaan gugup dan resah. Aku tahu, bahwa buru-buru adalah bukan sikapku yang biasa. Ini salah, pikirku. Dan tetap kulakukan demi prestige dan kebanggaan tersendiri di depan teman-temanku. 

Hasilnya? Gagal. Rupanya target yang kupasang tidak membuahkan hasil, kegugupanku mengalahkan persepsi dan logika pikiranku. Aku kalah oleh diri sendiri, dan merasa malu karenanya. Jujur, niatku memang sudah tidak baik. Show off dan merasa sombong? Itu tidak baik, dan tuhan menyadarkanku. Menjadi nomor satu dan menyombong adalah bukan pilihan yang tepat. Aku sadar akan hal itu. Dan gagal melaksanakannya.
Dari peristiwa kecil itu, aku sadar dan mengerti. Aku salah. Salah besar. Kebahagiaan untukku adalah bukan dari memimpin, menggapai tujuan yang sudah di-planning sedemikian rupa, dan mencapainya hingga kemenangan. Pujian, dan  kebanggaan? Bukan itu. Bukan itu.

Yang aku inginkan hanyalah perasaan nyaman dan tenang dalam menjalani hidup ini. Lebih baik aku memeluk seorang anak kecil yang ketakutan di medan perang, ketimbang maju di sisi depan dan menahan serbuan tombak serta hujan panah untuk meraih kepuasan. Senyum lebar jauh lebih berarti untukku, daripada meraih nilai besar tetapi menyakiti orang lain dalam proses. Aku melakukannya tidak lama ini, dan menyesal. Sangat menyesal.
Saat dentingan piano di lagu ini mencapai akhirnya, dan angkutan kota yang mulai lengang ini mencapai tujuan, aku yakin.

Bahwa pada akhirnya,  kebahagiaan akan didapat oleh seseorang yang menikmati aliran hidupnya, bukan tujuan akhir dari hidupnya. Dan kehangatan dari kebahagiaan yang menyelubungi orang-orang tenang ini,  menjadi jauh, jauh, jauh lebih berharga, dari tujuan segala umat manusia yang ada.

Dan mereka yang tersenyum pada akhirnya, membuka hati untuk semua orang. Tentu saja, di semua tempat, yang bertepuk tangan di sisi lapangan merasakan kebahagiaan paling besar !



#10 : Mengamati Orang Tak Berdosa #2


Balik lagi sama aku, DJ Ariefinara ! ding ding ding.
And yeah, aku kembali berada di ruangan kelas, dimana para temen-temen lagi pada ngerjain Tugas Akhir. Guru di depan cuma bakal ngebimbing dan ngejawab pertanyaan kita karena materinya udah abis. Ngeliat ke samping kiri dan kanan, semuanya pada terbenam dalam laptop sama program mereka. Kebanyakan bermuka setres dan kurang makan, kurang tidur, dan kurang hidup (serasa mummi yang masih mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna.). Bagus bagus, pada rajin rajin !
Sementara aku, dengan mata melongo gak karuan, didepan laptop Cuma ngebuka PDF tentang gambar manga.. Tanpa niat mau ngerjain tugas akhir. OH MY GOD, balikin semangat guaa ! aahhh.. sumpah, lebih baik ngerjain daripada setres kayak gini. Well…. Otak sih mau ngerjain, tapi tangan malah aktif ngetik hal hal ga jelas disini. Ohoho
Oke, mari kita masuk ke sesi mengamati temen temen sekelas #2 ! Di jam pelajaran yang sama, muka muka yang sama, dan guru yang hadir ! (sebelumnya gak hadir karena bertualang mencari kitab suci). Didepan aku ada sebaris cewek-cewek yang mengerjakan tugas dengan (keliatannya) cukup serius. Hmm.. bagus sih. Tapi sekali kali aku pengen liat para cewek itu ngelakuin kegiatan mainstream, kayak dandan, ngobrolon cowok & selingkuhan, dan saling nuduh.
Cewek a :  “ih, aku kemarin ketemu sama cowok B lho ! GANTENG BANGET ! kayak George Clooney !”
Cewek b :  “Oh ya ? Pasti gak kalah ganteng sama cowok aku ! udah ganteng, punya Audi lagi !”
Cewek c : “Huhu, gak akan menang ah sama kecenganku, dia “HOT” ! ”

Kalo ada percakapan gitu, gua Cuma bisa dengerin dan geleng geleng kepala. Betapa cowok begitu penting buat cewek. Rasanya kalo semisal para cowok ngobrol dengan style gitu, dan gua ikut antusias….. mending gua disunat ulang.
Balik lagi ke anak program. Ada seorang temen yang isi programnnya kebanyakan error.. tandanya programnnya perlu diperbaikin (ya iyalah !), mukanya udah tenggelam dalam kenistaan, matanya mengkerut, mulutnya komat kamit berbisik tentang angka dan variable, dan rambutnya menyerupai singa kawin. Tinggal ngaum, dan dia legal diundang ke Ragunan. Serius.
Hum. Rasanya ditinggal sendiri sementara anak anak pada ngerjain tugas. Ada yang ngumpul ngumpul di pojok ngulet sama script, berdiskusi untuk musyawarah mufakat menemukan cara terbaik menyelesaikan masalah, takut ada demo (emang lagi ngapain?). Salah satu diantara mereka nyerah dan menghembuskan nafas. Mukanya nista lagi. Wow, betapa hebatnya efek tugas akhir, dimana bisa ngebuat muka ganteng jadi serupa singa horny.
Gua mikir lagi, kapaaan gua bakal serius ngerjain ini?
Jujur, gua ngebuat tugas ini Cuma untuk memenuhi kompetensi sekolah dan menghindari tangisan orangtua karena anaknya mirip babi lepas, ga tau arah dan tanggung jawab, apalagi aturan.
Padahal, pengalaman paling menantang dalam kompetensi sekolah buat gua adalah Tugas Akhir, dimana semua materi bakal dikumpulin dan digunakan sebagaimana mestinya, bukan cuma ditulis dan di ulangankan doang. Tugas Akhir ngebuat elu jadi lelaki sejati, dan cewek juga jadi macho ! sama sama begadang, sama sama minum kopi, dan sama sama makan beling. Artinya, sama sama berjuang.

Ini tahun ketiga gua di SMK luar biasa ini, dan gua harus melewatinya dengan Flying Colors. Gimanapun caranya.
Walau gua harus diundang ke ragunan untuk itu.

#9 ; NONSTOP RANDOM !

Seriously, i need to stop this.

Aku terbangun di suatu pagi dengan mata sipit, tangan menggengam handphone yang tadinya ingin kulempar karena berteriak bisik pada jam 4.30 pagi, yang akhirnya kudiamkan.. dan kemudian tidur lagi. Dan kali ini, rutinitas indah itu berakibat cukup fatal.
Liat jam di atas dinding. Jam 10 lebih 5. di hari rabu yang padat kegiatan sekolah. Indah banget.
Seriously, i need to stop this nonsense. tidur kayak kena petrificus totalus dan gak bangun bangun. damn.

--

Walau jujur, rutinitas itu mulai berubah sejak aku berhadapan dengan dua hal yang bikin aku senewen sekaligus tertantang : TUGAS AKHIR. oh yeah. mantep sekali kawan. Secara aku SMK jurusan informatika, dimana nilai tugas akhir ngecover 75 % dari nilai raport yang ada. oh my holy god. 

Tau bagusnya dimana? kita bisa lulus dengan tugas akhir berkualitas edan bahkan kalo ulangan harian kita jeblok semua, jarang masuk (kalo ini sih ga pasti juga, soalnya pasti urusan sama BK), dan jarang ngerjain tugas. Well well, ini chance besarku buat memperbaiki nilai di raport yang (dengan seremnya) dihiasi nilai 70, 75, dan 80 doang.  Oke, mungkin menurut sebagian besar dari kalian nilai segitu udah selamat dari tempelengan ortu di rumah, tapi... di sekolah ini, jangan harap bisa selamat. hmm... ngomongin soal sekolah..

Sedikit melenceng dari topik, aku mau ngomongin sekolah dimana aku belajar.. sebut aja sekolah X (disensor karena takut melanggar IKRAR SISWA dan TATA TERTIB SEKOLAH yang berlaku. well ga apal ah ! xD)
Sisi positifnya dulu, sekolah ini punya reputasi mantep di kota bandung, peringkat pertama SMK dengan nilai NEM gak boleh kurang dari 34. Wow. luar biasa beliau. Aku waktu SMP dapetin NEM segitu juga udah berdarah darah gak karuan, layaknya spartan masuk ke medan laga. abis kuadrat. Reputasi sekolah cenderung baik, dimana selalu ada juara LKS (Lomba Kompetensi Siswa) setiap tahun.

TAPI. selalu ada tapi. ada salah satu muridnya yang selalu cengegesan, berlenggang ke sekolah dengan indahnya padahal tugas belum ngerjain satu pun. Keseringan telat. sampe sampe guru piket pada kenal baik. Upacara diri di depan, jadi gerak gerik terpantau dari segala sisi. Siapa sih murid bego ini? mau tau?

Itu aku waktu masih menginjak kelas satu SMK. yeah. yeah. Sampe sekarang masih, kata kau? err..
Hem.dimana dulu aku adalah seorang pencinta buku dan wanita yang (sepertinya) salah jurusan. Dulu, aku orangnya lumayan introverted. Sampe sekarang pun, aku lebih memilih berdiam di depan komputerku daripada berkeliaran di luar, nongkrong ga ada tujuan dan ngabisin duit. Buat apa?

Dan karena itu juga.. aku gak tau pergaulan luar itu seperti apa. Aku cuma tau pergaulan di dalam kelas, topiknya selalu gak pernah rubah ; tugas, jajan, cewek. Ulang terus sampe mampus. Nah, di part "cewek" ini aku selalu lost, dan cuma bisa nimpalin obrolan mereka dengan kata "oh" dan "hmm, gitu?", ngambil intisari-intisari obrolan mereka. Intinya ? kadang cewek itu asik, kadang ngabisin duit, kadang ngeselin, dan kadang bikin para lelaki ngelempar besi ke tempurung otak mereka yang susah dibuat ngerti. Hoo.. pikir aku. Itu cewek, toh? oh, oke.

About that, i dont really give a damn. Saat itu, pertama kali aku ngeliat dunia remaja yang bener-bener remaja, arti sempitnya aku baru terbuka ke dunia luar. Dunia negatif jelas lebih menarik, sebenarnya. Tapi dunia intelektualitas ngebuat diriku nyaman, tentu aja persaingan ketat selalu ada, well.. just get along with it and smile. Dengan sekolah yang, sebenarnya sistemnya parah namun muridnya enjoyable, aku menikmati ini. Untuk pertama kalinya, aku hobi berdebat.

Hum. out of topic banget ya?

Balik lagi ke rutinitas, dan karena TA sialan itu... aku jadi rajin mikir. Ngerjain TA nya mah kagak, cuma mikir doang bawaannya. Asli parah, jangan ditiru saudara saudara.. hasilnya ga baik. Contohnya saat ulangan produktif  Java tadi, Cuma dengan modal nekat dan keyakinan bakal berhasil, aku gak ngapalin sama sekali dan bergantung pada intuisi ke 6 (meramal dan merayu). Hasilnya? luar biasa beliau. Harus remed lagi.. yeah.

Dan hari-hari serasa berjalan cepat pisan. Sekarang udah hari kamis, minggu depan udah kamis lagi, minggu depannya PRESENTASI. euh. no, no way in hell.... aku males. males. males. cuma pengen mikirin konsepnya doang. euhhh....
 
Nonstop random, huh? go to hell with focused topics.

Mungkin kalo aku ada mood lagi, atau kalo udah beres TA dan liburan datang, aku bakal nulis lebih sering.. sayonara for now :)

#8. Galau, dan Cara Menyikapinya

Sorry everyone, penulis balik ke stage !

Ternyata, sulit mencari waktu & niat untuk nulis. banyak kejadian dan pengalaman yang telah dilewati, sebenarnya. Hanya aku belum punya setitik pun keberanian maupun keinginan untuk mencurahkannya disini.

Posting kali ini mungkin bakal sedikit membosankan, jadi bagi yang takut bosen atau yang udah terlalu lama mojok dengan kompinya (seperti aku) mohon mengalihkan bola matanya ke arah lain... seperti, err... bokep?

Ga juga sih.

Aku cuma ingin berbisik di tulisan ini sedikit. tentang satu topik hot di kalangan anak muda. satu kata yang tak pernah lepas dari pergunjingan semua gender, baik itu cewek, cowok, maupun campurannya. Yaitu, galau.
Aku pernah galau, dan pernah melihat orang lain galau. Galau sebenarnya gak salah, buatku secara pribadi galau adalah salah satu cara baik untuk mengeluarkan isi hatimu yang penat. Sekiranya kamu gak pernah galau, aku percaya kalau kamu adalah salah satu orang yang :
1. Nyantai ga kepalang, gak punya masalah
2. Dewasa, gak perlu murung dalam menghadapi sesuatu
3. Bahagia, dunia selalu tampak menyenangkan bagimu
4. GA PEDULIAN, ini yang paling sering.
  Kenapa sih kita harus galau? well, ngeliat dari situasi pergaulan anak muda sekarang, tentunya gak akan terpisahkan dari pacaran, sekolah, pacaran, pacaran, duit, duit, pacaran, dan pacaran, seakan akan dunia akan runtuh bila pacaran itu dihilangkan. Aku gak nyalahin mereka sih, aku juga pernah ngerasain (dan gagal dengan indah) dalam masalah hubungan sosial ini, semua orang berhak mencari cara apapun untuk disayangi dan menyayangi sesama, dalam bentuk apapun.

Pacaran, kurang lebih adalah sumber galau anak muda.

Ada satu cerita dimana sang pasangan, dimana mereka saling terobsesi antara satu dengan yang lain, sangat dekat dan bener-bener terbuka. Segala hal diceritain, dari mulai sebel sama orangtua sampe urusan di toilet. Saling terbuka ke orang yang paling dipercaya memang baik sebetulnya, tapi dampak akhirnya ekstrem abis man. Dimana kalo sewaktu-waktu kamu ingin sendiri (aku percaya semua orang pasti punya fase ini) dan pasanganmu ngerecokin terus, akhirnya kamu kesel dan frontal ngambek ga jelas. Udah jelas kan outcomenya apa? Galau.

Haha, itulah galau dalam arti simpel. tentu aja ada banyak hal lain yang menyebabkan ini.. bahkan aku pun bisa jadi galau karena lagu yang liriknya sedih atau tugas akhir, penyebab waktu waktu kosong jadi gak kosong lagi buat mikirin tugas.. gak dikerjain, dipikirin doang.

Kesimpulannya, galau itu adalah tumpukan masalah yang dipikirkan aja, gak diselesain. Cuma didiemin dan dibiarin membeku. Hati-hati lho, ada fase dimana sumber sumber kegalauan ini bisa memicu bencana, bahkan kamu pun bisa gak sadar bikin masalah karena lagi galau. Semisal saat perayaan ulang tahun temanmu dan kamu diundang untuk ngisi stand musik buat pengiring. Kan bisa kacau kalo kamu mainin terus lagu-lagu sedih kayak "Peterpan - semua tentang kita" ? Ini mau pesta ultah atau perpisahan ?

Buat kalian yang lagi galau, aku ada saran. STOP puter lagu slow yang liriknya penuh dengan silet (emang ada?), dengerin lagu yang lebih bikin kamu pengen head dance atau sing along with it, coba se-fun mungkin !
Mungkin hal itu kecil, tapi terbukti di kebanyakan kasus galau (yang biasanya karena itu itu aja) cara ini ampuh lho, setidaknya sekalian mikirin gimana cara menyelesaikan masalah yang lagi menimpa.

Atau, just get along with it. JANGAN BUAT STATUS GALAU DI FB ! please, aku udah sering ngelakuin ini dan efeknya malah lebih buruk. Selain dikatain alay dan labil, kamu juga bisa dengan secara tidak langsung membuat orang yang kamu maksud seperti tertusuk dari belakang dan kecewa sama tindakanmu yang pengecut bermodalkan jaringan sosial doang. Pengalamanku, lebih baik berkata jujur face-to-face kepada orangnya, kalau itu masalah sosial. Kalau itu cuma masalah mood kamu, lebih baik diam. Lakuin banyak hal yang lebih berguna buat ngalihin perhatian kamu dari hal itu, mulai nulis puisi, baca buku, atau sibuk di kamar mandi. Jauh lebih berguna, man. Mungkin aja karena kamu nulis puisi, puisimu asik dibaca, diterbitin di kolom koran terkemuka, digemari cewek sebagai cowok romantis, dan hidup kamu bakal berubah !

Quote yang berguna ; "Mulailah sesuatu yang baru, dan kamu tidak akan sangka itu yang memulai segalanya".

So, make a change, dont think about the past. Yang lalu biarkanlah berlalu, itu yang membuat kita berdiri sekarang. Berterima kasihlah pada pengalaman, Berpijaklah yang kuat pada masa kini, Berlarilah pada masa depan yang menunggu diri positif kita !

PS : Aku nulis ini dalam state galau.. oh well.

#7 : BOSEN. KUADRAT

Bosen. BOSEN KUADRAT.

Gua ngetik tulisan ini di kelas yang tidak ada gurunya, dia ada urusan kuliah dan dia minta izin buat ikut ujian, dan bakal balik lagi. Bagus sih, secara pelajaran ini adalah pelajaran yang bikin gua senewen, selain itu.. gurunya bikin gua bosen. Ngajarnya mantep sih, sialnya otak gua saat ini terlalu sluggish untuk nerima materi.
Oh well, berarti ini saatnya gua nyari aktifitas lain selain ngeliatin orang ribet sama laptop mereka. Yaitu : dengerin obrolan-obrolan mereka. Yeah, gua terlahir sebagai raja nguping. Dan lu tau? Ternyata topic mereka  aneh aneh.
Gua beralih ke salah satu sudut kelas, dimana ngumpul para geek yang ngomongin tentang coding dan tetek bengeknya. Yang gua tau, program adalah hidup mereka. Mereka makan, sambil coding. Mereka tidur, lagi coding. Bahkan mereka pacaran sambil coding. Ada apa sih dengan coding? Gua menguping pembicaraan mereka (dan secara biadab memalsukan isinya.)
A : “Bah, kenapa fungsi di program gua gak jalan sih?”
B. : “Itu ada kesalahan di penutupan IF, dan ELSE nya salah penempatan.”
A : “Oh gitu? Gua coba ganti, deh”
Wow ! pembicaraan yang inspirasional ! dimana gua nyadar, kalo belajar coding, lu diajar lagi gimana cara ngetik, dan belajar ngomong dengan bahasa yang JAUH berbeda. Entaran, lu lagi hangout sama pacar lu (yang juga programmer) dan lagi mesra-mesraan.
A : “Eh, say. Kamu sayang aku ga?”
B. : “Iya dong, aku kalo ga ada kamu ga akan bisa di-running.”
A : “Oh ya? Aku ini sebuah deklarasi atau deretan fungsi?”
B : “Platform itu hatimu, dan cinta kita seindah Java dengan Swing”
A : ”Owh ! I LAPH YOU !”
B : “ME TOOH !”

Pasangan Programmer, adalah pasangan yang cintanya terjaga dengan baik, di enskripsi. Siapa yang berani nikung?


Gua liat di salah satu laptop temen gua, dan melihat sesuatu yang bombastis.
 Dia ngebuat tampilan programnya seperti…. Situs bokep berbayar. Luar biasa ! gua pengen ngasih dia gambar lalat sama ade ray, dan gua percaya dia bisa jadi pengusaha situs bokep nasional. Gua ngebayangin dia dengan programmnya membuat film bokep. DIa, dengan wajahnya yang super horny, menyetel film gay negro threesome dan tangan kirinya yang sibuk meriksa isi celana, nyuruh nyuruh kedua actor di depan dia . “LEBIH ASOY, BRO ! VIDEO GUA LEBIH ASIK DARI AKSI ELO. LEBIH ASOY !”

Sepertinya, topic topic yang gua omongin melenceng secara tajam. Ada apa dengan penulis blog ini? Jiah.

Ada gurunya ah, waktunya gua siapin mata palsu dan tidur.

#6 : Salah Tingkah dan Sedotan

Salah tingkah? bukan gua banget.

Bisa dibilang, gua adalah orang yang cukup composed dan serius, walau pada saat yang (tidak) tepat kegilaannya keluar dan melakukan hal-hal diluar nalar manusia. Seperti muter-muter di depan kelas layaknya Michael Jackson mabok laxative dan laksa.

AOUW !

Di saat-saat tertentu, terutama pas diskusi, tentu aja salting adalah hal yang harus gue superduper hindari. Secara gue ga mau disebut telmi(telat mikir) alias setop mental. Tapi entah kenapa, hal itu berulang dan berulang ga berhenti.. Gue merasakan galau maksimal kalau ide gue ga masuk ke diskusi, bahkan kalau gak didengerin sama sekali. atau, yang di-cancel secara biadab. Contoh setres.

A. : Oke, maka ide A yang akan kita pake.
Gue : Lah? bukannya ide gue yang cocok buat ini? kan ini gini, gitu, bla bla.
A : Bego, salah sendiri lu nyadarnya telat, malah cari cemilan dulu.. derita lu, NYET
Gue : (cuma bisa ngeliat cengo orang sekitar, dengan jajanan seribuan di tangan.)

Anyways, gue (menggangap) diri sendiri sebagai orang yang serius kalo sendirian. Dimana gue lebih suka ngeliat bintang-bintang sehabis hujan di malam hari sambil intropeksi diri; apakah gue cocok jadi lelaki?
YA GAK LAH. Seandainya gue bisa main biola(walau gitar pun udah latihan 1 taun ga becus-becus) gue mau mainin segala piece yang gue kagumi dan banggakan.. Jujur, lagu instrumental biola & piano selalu nyentuh perasaan gue.

Banci banget.

Salah tingkah paling luar biasa, gue rasain... saat gue ketemu pacar pertama gua.

**

Di siang yang mendung itu, badan gue gemeteran abis. 

Jam di hape udah menunjukkan pukul 12.30. Saatnya gue berangkat bersama 2 temen gue, Damar & Kou. Padahal gue secara confident bilang ke Iren, pacar gua(yang baru ketemu sekali, itupun sebelum jadian), bahwa gue ga akan nervous. Nyatanya? gue serasa kayak tempe. Tempe lembek saos mentega. cupu total.

Ini adalah acara triple date yang gue adain sama mereka dan pacar-pacar mereka (buset, jadinya kek womanizer gini). Dimana gue yang ngajak, gue yang nentuin tempat dan waktu, dan sehabis itu... 

Gue bingung. Sambil mojok di sudut megang jemuran.

Apa yang harus gue lakuin kalo pacaran?
Bagi orang yang udah biasa putus nyambung dan playboy, itu hal gampang sepertinya. Gue ngebayanginnya kayak film-film india, dimana lu harus tanning dulu, terus pake baju gemerlap kuning-kuning + sorban bulu sambil bawa mawar, muter-muter lalu ngasih bunga itu ala supir jemput. Mau nembak cewek atau mau nyupirin orang kawin mas?

Dan ternyata bukan. 
Mereka punya teknik-teknik yang bisa bikin cewek klepek-klepek otomatis dan mudah buat dia untuk memanipulasinya. Indah sekali, bila saat lu ngebutuhin cewek buat prestige, lu tinggal ambil mawar, muter muter, dapet cewek deh. Sialnya, gue, dengan tampang pas-pasan, wajah dompet gue yang galau, baju kaos jins belel sepatu bekas tanah kuburan, mau First Date?

Ada apa dengan indonesia, dan spesies gaibnya ini?

**
Akhirnya kita lagi makan di suatu cafe di ciwalk, dimana salah tingkah ekstrem terjadi.

Pacar Damar, namanya Sasa, orangnya timid. Dia cute, dan malu kalo diliatin mulu pacarnya. Well siapa sih cewek yang gak malu kalo diliatin kekasihnya? Contohnya, Iren. Dari saat kita mesen makanan, gue kerjanya ngeliatin dia mulu. Entah, gue suka ngeliat mata dan ekspresinya. Dan rupanya dia malu total. Setiap gue ngeliat doi, dia nundukin kepala. Bentar.. dia malu atau dia takut? ini dua hal yang berbeda, kawan.

Makanan dan minuman nyampe. Sasa mesen Lemon Iced Tea, sementara gua mesen Sweet Iced Tea. Biasanya selalu ada lemon iris di setiap lemon tea, tetapi di sini ga ada. Otomatis ga bisa keliatan bedanya, kan? Gua dengan indahnya ngambil salah satu Tea, dan gua coba.
Gua : Euh, kayaknya gua salah ngambil deh.. ini lemon tea.
Sasa : Oh gitu? ya udah, tuker deh.
(gue sama sasa nuker sedotan, dan masukin sedotan itu ke gelas yang berbeda)
hening...

Gua, dan sasa sepertinya, lagi salting. Dan rupanya kita sulit mengerti keadaan sekitar.

Gua : Tunggu... kenapa di tuker sedotannya?
Sasa : HAH? Oh iya, kenapa dituker? KENAPA DITUKER?
Gua : Tuker lagi deh !
Sasa : Eh? eh? kok dituker lagi? eh? 
Gua : Hah?
Sasa : TUKER GELASNYA LAH !
Gua : Oh iya. iya ya. iya bener.

Ruchii, Kou, sama Damar ngakak ga selesai selesai. Iren senyum-senyum geli.

Gua gondok, dan mencoba mencari palu untuk menempa otak dodol gua.
Hati hati kawan, salah tingkah bisa membunuh harga diri. Dan dalam kasus gua, rupanya kegilaan akut gua terlihat, secara langsung..
Sama pacar tercantik gua, yang sedang tersenyum geli itu,
Serasa dia ngelempar lembing tepat ke hati gue.





#5 : Selamat Jalan, Wahai Sang Pejuang

Di depan kuburan merah basah itu, dikelilingi sekelompok orang yang mengantar kepergiannya menuju ke sang Maha Kuasa untuk selama-lamanya.. Gue bingung.

Gue bingung.. dan mencoba mengingat semua kenangan tentang dia.

Tentang seorang guru. Idealismenya, dan prinsip sosialnya.
terutama, kebaikannya.

**

Gue dulu orangnya cengegesan, sok keren dan sok tau. tipikal mid-boss yang lu temuin di konsol jadul semacem sega atau dreamcast,  yang omong besar gak ada isinya sama sekali. Cukup satu kali magic, raiblah kegagahannya. Kegagahan gue waktu itu, seperti bulu ketek yang melambai.

Dan karena itu, gue paling ga suka didikte dan diperintah, sampe sekarang. Apapun kegiatan yang didelegasikan ke gue secara sepihak, gue ga pernah mau ngerjain. Harus satu persetujuan dengan prinsip gue. Egois banget. Well, karena gue biasanya jadi mesin ide, akhirnya gue bisa milih kerjaan yang bisa kerjain dengan enjoy dan tanpa beban, sementara temen gua tanpa disadari dapet kerjaan yang troublesome.

Err.. im a devil, all right.
Kalo sekarang sih, asal itu oke buat semua anggota, gua siap nerima tugas apa pun. Asal jangan jadi moderator, please. Gue ga mau presentasi yang resmi malah jadi total lawak karena perangai gue yang ga bisa serius. Entar gue ngajarin mereka jadi orang gila professional. Bisa bisa gue di-interview Oprah dan terkenal sebagai pencetus SMKN Gila Pro 1.

---

Sikap cengengesan ga jelas itu akhirnya ilang saat gue kelas 2, dimana di satu mata pelajaran MCP (Mobile Communication Programming) gue nemuin satu guru.

Namanya Pak Purwanto.

Saat itu, gue cuma bisa ngerangkum satu kata buat guru itu. KERAS. Dia menegakkan disiplin dengan cukup strict, dedikasi kerja dia hebat, dan satu hal yang bikin gua kagum. Dengan semua poin poin itu, kita bisa dengan nyaman diajar sama dia. Gue.... pada dasarnya ngeberontak, tapi gue dibawa tunduk sama prinsip-prinsipnya. Pak Purwanto adalah guru inspirasi gue.

Di akhir semester, Pak Purwanto ngasih tugas akhir dimana kita harus sidang presentasi. Dia nerima sesi pembuatan judul TA waktu itu. Satu persatu dia panggil dan dia tanya.

'apa judul kamu?' 'Kok gini konsepnya? coba jelasin'

Satu persatu siswa ngasih ide mereka dengan penjelasan tentang konsepnya. lu tau apa? satu persatu dari mereka tumbang dan melayang, kalah oleh kecerdikan Pak Purwanto dalam ngeliat celah kesalahan judul itu.
Gue udah punya konsep di kepala, ide udah oke, dan siap gua lancarkan begitu ditanya. Ide judulnya klasik, garing dan asin (ini tugas apa gorengan?)

Judul TA Gue : 'Tata Cara Menggambar Manga Bagi Pemula'.  Oke..ga inovatif sekali, sodara sodara
Tapi entah kenapa, judul itu diterima, dengan satu kata dari beliau yang cukup bikin motivasi gue naik tinggi.
'Isinya yang lengkap, ya? kalo enggak programmnya bapak kasih 0'
Waow. pikir gue. ini ekstrem, tapi gue bisa ngelakuin ini. gue harus bisa bikin beliau kagum. Untuk segala yang dia kasih ke gue satu semester ini.

Dibekali semangat itu, gue dan temen-temen gue dengan berdarah-darah dan penuh perjuangan menyelesaikan TA itu. Seminggu sebelum sidang adalah Minggu Sakit Sekelas. Kita semua keserang virus flu yang kejam dan tidak berkeprifluan membasmi antibodi yang sangat sangat diperluin untuk sidang itu. Untungnya, Kita semua selamat. (Walau beres di saat saat paling akhir; 2 jam sebelum sidang). Temen gue, Opik, bilang gini.

"Ini teh, Tugas sekolah atau tugas kuliah sih? Serasa perang gini".
Gue cuma bisa ngangguk setuju, kepala udah ga bisa diajak kompromi. Kebanyakan bikin kode-kode bikin gua teleng. Temen yang lain sama halnya sih. Bahkan ada satu temen gua, namanya Egi, yang ngerjain TA dia sembari ngebantuin temen-temen yang lain, secara ilmu dia lebih dari kita dan dia orangnya baik. Tugas beres..... saatnya sidang.

To make this story short, kebanyakan presentator dikritik. Kesalahan selalu terlihat jelas di mata guru hebat itu. Bahkan egi pun, dengan programnnya yang super cerdik, salahnya masih terlihat.

Gue saat itu, keringet dingin ga abis abis. mampus. program gue kacrut abis, cuma inovasi dikit.. sisanya ngikutin modul semua. Dimana inovasi harus diutamakan disini. 
Gue pengen ada gua dan gue bisa nyumput di gua itu sama diri gue yang gue banget. (bingung kan? gue juga bingung)

Saatnya gue maju. Tangan bergetar ga selesai-selesai, panas laptop udah ga kerasa. Ada bau kebakar dari samping kiri gua... ternyata charger laptop temen gua bakti kebakar. oh. MATIIN OI !
Gue masang kabel proyektor, dan gue tampilin program gue. Berbekal pengalaman gue belajar gambar dan isi coding program, gue bacot abis. Pak Purwanto ngeliat gue dengan tajem. Seragam gue nempel di punggung saking banyaknya keringat. Di tengah-tengah penjelasan itu.. beliau berkata.

"Oke rif, tutup aja presentasinya."

Gue bengong total. Ada apa ini? kok di udahin gini? gak di kritik? apa programnya gak menarik sampe presentasi gue ditutup gitu aja ? Tanda tanya bagai ngalir dari otak gue ke mimbar. Spekulasi gue semuanya ga enak.

Dan anak anak, entah kenapa... tiba tiba tepuk tangan. Kenapa mereka tepuk tangan? pertanyaan masih ada di kepala gue. Tapi, setelah gue ngeliat ekspresi beliau, perasaan gue langsung tenang dan bahagia.

Beliau tersenyum.

Satu hal itu, membuat hari-hari perjuangan gue gak sia sia.
Satu hal itu, satu senyuman itu, satu kebanggaan merasa telah dihargai itu...
Membuat gua bangga. Betapa ada guru sebaik dan semurni beliau.

**

Pada hari ini jam 00.00. Ia berpulang, meninggalkan jasa-jasanya sebagai pengajar & pejuang di sekolah gue. Dia adalah kontributor terkuat, dimana ia yang paling berjasa mengembangkan sekolah gue jadi SMK terbaik di kota Bandung. 

Atau, satu kata sederhana. Beliau adalah orang baik. Orang yang layak pada saat dikebumikan diantar keluarganya, sanak saudaranya, sahabat terbaiknya, kolega-koleganya, teman, murid yang sangat mencintai sosok beliau.. Orang yang layak, didoakan lebih dari 100 orang saat ia berpulang.

Gue yakin.. Beliau bisa dengan khidmat bertemu dengan-Nya dan berbincang layaknya sahabat. Sebagaimana ia berbincang pada murid yang menghormatinya sepenuh hati. 

Berpulanglah dengan senyum, Pak Purwanto. Kami akan selalu mengenang jasa-jasa serta luasnya ilmu yang engkau berikan. Kami berterima kasih atas kebaikan anda. Kedisiplinan anda dalam mengingatkan kami apa yang salah dan apa yang benar.

Pak Purwanto, Terima Kasih. Dan selamat tinggal

  



Recommended Money Makers