#11 : Lirik-lirik Tujuan

Ada sebuah kisah tentang kehidupan, dimana yang satu ingin terus melesat maju ke depan, sementara ada pula yang hanya ingin menepi di sisi jalan dan menyemangati orang tersebut. Partanyaannya adalah, siapakah yang paling bahagia diantara keduanya?

Sinar matahari menembus rintik-rintik hujan di siang hari ini, senyum manis terpancar dalam seka langit berlapis awan nan bersih setelah mengeluarkan isinya. Aku menyeka mata dan melihat ke sudut kursi angkutan kota dimana aku telah melelapkan diriku sejenak tadi, nampaknya masih tanpa penghuni. Supir angkot pun mulai terlihat tidak sabaran, jemarinya tanpa henti menghentak-hentak setir mobil, seakan hendak membuat melodi. Mentari merajam punggungku. Merasa panas, aku pindah ke sudut yang lain.

Sembari menunggu, kukeluarkan handphone tersayangku dan kupasangkan headset untuk mengisi kekosongan waktu. Melihat jam internal handphone, rupanya waktu menunjukkan jam 15.00,  aku bahkan tidak menyadarinya. Sedikit tersenyum simpul, aku menyetel lagu dalam playlist. Dan entah mengapa suasana sore ini mengingatkanku pada sebuah epos, temanya adalah tentang pemuda yang saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, dengan imbalan darah dan persahabatan.  Pada akhir cerita itu, sang pemenang berakhir sendiri, di pedang yang ia genggam terbaring sang rival. Sang pemenang berdiri di atas tumpukan mayat pengikutnya dan pengikut rivalnya, semuanya terbujur kaku, tidak bergerak. Angin berhembus menerpa perbukitan luas itu. Dan kau tahu ekspresi apa yang muncul di wajah sang pemenang? Ia menangis tanpa suara. Penyesalan selalu datang di akhir, menurut peribahasa.

Tangisnya pun tenggelam dalam matahari merah yang tenggelam sunyi. Persis seperti matahari yang menghiasi sore ini.

Getaran-getaran kecil dari pintu samping menyadarkanku bahwa ada siswa-siswi dari sekolahku menaiki angkutan ini, aku segera menyisi untuk mereka. Ada 2 orang lelaki dan 1 orang perempuan, perkiraanku mereka berada di kelas 2 dan pulang lebih awal. Tawa dan canda mengalir dari percakapan mereka tanpa henti, walau kudengar samar-samar karena telingaku disibukkan dengan dentingan piano dari headset yang kupakai. Baguslah, pikirku. Setidaknya cahaya mentari itu tidak menyergapku lagi. Dan angkutan kota ini pun bisa segera maju menggapai tujuan akhirnya.

Kadang kala, aku berpikir. Semua orang memiliki kualitasnya masing-masing, mereka mempunyai pengalaman dalam hidupnya, entah itu baik atau buruk. Aku yakin, bahwa seorang petani yang setiap hari bergelut dengan tanamannya memiliki pengalaman hidup yang tidak kurang dengan seorang pengusaha dalam bidang real estate dan sahamnya, hanya diletakkan di kotak yang berbeda dan situasi yang berbeda.
Tetapi, arti hidup mereka tetap sama. Arti hidupku dan teman sekelasku pula tidak berbeda, tentunya. Aku sadar, bahwa terdapat tingkatan dan strata sendiri dalam kelasku, juga dalam organisasi-organisasi yang kuikuti. Kesenjangan sosial tampak  pada para anggotanya. Akan selalu ada seorang individu, tentunya dengan ambisi dan tekad, ingin menjadi nomor satu. Ada pula individu lain hanya ingin membantu mereka, manusia berambisi tinggi itu, untuk bersinar dan memeluknya apabila mereka berhasil menggapai tujuan. 

Dan aku bingung, manakah situasi yang bisa membuatku lebih nyaman ?

Nomor satu bukan berarti jaminan untuk membeli satu tiket kebahagiaan selama-lamanya, tidak. Pengalamanku mengatakan bahwa kebahagiaan bertahan sementara pada puncaknya, dan secara bertahap menurun dalam skala tinggi atau rendah, hingga pada akhirnya menyentuh dasar kesedihan dan berusaha memanjat kembali untuk meraih kebahagiaan itu. Perputaran kejadian ini takkan berakhir. 

Apakah arti hidup bagi pemenang, dan apakah pula arti hidup bagi sang “rata-rata” ini?

Akhirnya, angkutan ini pun maju, dengan mobilnya yang telah penuh dengan kuota “tujuh-lima”-nya memenuhi persyaratan untuk menggelinding pergi. Aku sedikit heran pada penumpang, mengapa saat kondisi angkutan kosong, mereka berkicau ria dengan sesama? Dan apabila telah penuh, mereka diam terbisu dan disibukkan oleh gadget-gadget terbaru mereka? Padahal, aku berharap apabila ada lebih banyak orang dalam suatu tempat, akan ada banyak kesempatan untuk membuat percakapan hangat ketimbang saling individualistis seperti ini. Sambil memikirkan gagasan yang bahkan aku sendiri tidak yakin, aku hanya tersenyum dan mengencangkan volume lagu, mengalahkan kebisingan mobil-mobil yang ingin saling salip karena macet menghadang arus laju mereka.

Satu kejadian kecil menyergapku saat aku mengikuti pelajaran di kelas.
Ada sebuah tes, tes menghapal, sebutlah begitu. Guru yang mengajar memang cukup tegas dan tanpa kompromi, ia selalu membuat kami merasa gugup saat tes itu, walau aku tahu bahwa hatinya lembut dan pengertian, hanya cara pengajarannya memang keras. Para temanku, termasuk aku, memburu-buru untuk menyelesaikan tes ini, selain karena ingin nilai kesigapan tinggi, juga ingin melepaskan perasaan gugup dan resah. Aku tahu, bahwa buru-buru adalah bukan sikapku yang biasa. Ini salah, pikirku. Dan tetap kulakukan demi prestige dan kebanggaan tersendiri di depan teman-temanku. 

Hasilnya? Gagal. Rupanya target yang kupasang tidak membuahkan hasil, kegugupanku mengalahkan persepsi dan logika pikiranku. Aku kalah oleh diri sendiri, dan merasa malu karenanya. Jujur, niatku memang sudah tidak baik. Show off dan merasa sombong? Itu tidak baik, dan tuhan menyadarkanku. Menjadi nomor satu dan menyombong adalah bukan pilihan yang tepat. Aku sadar akan hal itu. Dan gagal melaksanakannya.
Dari peristiwa kecil itu, aku sadar dan mengerti. Aku salah. Salah besar. Kebahagiaan untukku adalah bukan dari memimpin, menggapai tujuan yang sudah di-planning sedemikian rupa, dan mencapainya hingga kemenangan. Pujian, dan  kebanggaan? Bukan itu. Bukan itu.

Yang aku inginkan hanyalah perasaan nyaman dan tenang dalam menjalani hidup ini. Lebih baik aku memeluk seorang anak kecil yang ketakutan di medan perang, ketimbang maju di sisi depan dan menahan serbuan tombak serta hujan panah untuk meraih kepuasan. Senyum lebar jauh lebih berarti untukku, daripada meraih nilai besar tetapi menyakiti orang lain dalam proses. Aku melakukannya tidak lama ini, dan menyesal. Sangat menyesal.
Saat dentingan piano di lagu ini mencapai akhirnya, dan angkutan kota yang mulai lengang ini mencapai tujuan, aku yakin.

Bahwa pada akhirnya,  kebahagiaan akan didapat oleh seseorang yang menikmati aliran hidupnya, bukan tujuan akhir dari hidupnya. Dan kehangatan dari kebahagiaan yang menyelubungi orang-orang tenang ini,  menjadi jauh, jauh, jauh lebih berharga, dari tujuan segala umat manusia yang ada.

Dan mereka yang tersenyum pada akhirnya, membuka hati untuk semua orang. Tentu saja, di semua tempat, yang bertepuk tangan di sisi lapangan merasakan kebahagiaan paling besar !



0 komentar



Recommended Money Makers